Selamat Datang Di Blog Dunia Abde...... Selamat Datang Di Blog Dunia Abde...... Selamat Datang Di Blog Dunia Abde...... Selamat Datang Di Blog Dunia Abde...... Selamat Datang Di Blog Dunia Abde...... Selamat Datang Di Blog Dunia Abde......

Minggu, 25 Maret 2012

"Suara Hati di Persembunyian Hati"

Di persembunyian waktuku...
Di persembunyian hatiku...
Aku hanya berdua...
Antara aku dan suara hatiku...
Sebelumnya biasa saja...
Tampak tenang di ketenangan waktuku...
Tampak tentram di persembunyian hatiku...
Dan berjalan seperti seharusnya ia berjalan...

Tapi sejak saat itu...
Sesuatu tlah terjadi...
Dan membuat tatanan hati ini retak...
Padahal sebelumnya aku sudah berusaha menyimpan rapuh di tatanan itu...
Dan sesuatu yang terjadi itu bukannya menguatkan tatanan yang ada...
Tapi membuat tatanan baru dengan tanpa aku sadari...
Tanpa bisa aku hindari...

Hmm...
Mengapa ini baru saja ada...
Mengapa ini tidak sedari dulu...
Di saat aku belum mulai menata hatiku...
Mengapa aku baru saja menyadarinya...
Apa maksud di balik semua ini...
Dan menimpaku begitu cepat...
Bahkan tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya...
Dan membuatku tiada daya tuk menghindarinya...

Aku tak tahu apakah ini kebodohanku...
Apakah ini adalah sebuah kesalahan yang bisa dibenarkan...
Ataukah ini adalah sebuah kebenaran di waktu dan di saat yang salah...
Atau memang sang pemilik waktu sengaja mempermainkanku...
Mempermainkan perasaan yang aku sendiri takut untuk memaknainya...
Mengapa aku selalu tertinggal di banyak hal...
Mengapa aku selalu tertinggal di banyak waktu yang harus kulalui...
Mengapa aku slalu membohongi kejujuran sebuah perkataan hati...

Wahai jiwa yang tlah tersandar di hatiku...
Maafkan aku...
Karna lemahku...
Membiarkannya tetap berjalan...
Membiarkannya tetap ada...
Membiarkannya tetap bermain...
Di ruang mimpiku...
Di ruang ceritaku...
Meski aku sudah tahu...
Akan berakhir seperti apa di ujung cerita itu...
Dan aku hanya bisa berharap...
Aku tetap bisa berdiri dan kuat ketika akhir cerita itu tiba...
Di saat aku harus melepaskan segalanya...
Demi suatu kebaikan...
Dan bersama membasuh perih yang ada...

Wahai jiwa yang tlah tersandar di hatiku...
Sekali lagi...
Maafkanlah aku...

(Abde Syah)

"Smakin Jauh..."

Ternyata...

Aku sudah smakin jauh...
Dan smakin menjauh...
Smakin jauh dari waktuku...
Dan waktuku yg dulu...
Juga smakin menjauh dariku...
Ingin sekali aku kembali...
Kembali ke waktuku yg dulu...
Jauh sebelum aku menemukannya...
Hingga tidak membuat aku berlari dan berlari lagi...
Seperti saat ini...
Aku harus sembunyi dan sembunyi...
Dari pengejaran hati yg liar...
Aku harus sembunyi dan sembunyi...
Dari pengejaran hati yg sombong...
Pengejaran hati yg sia-sia...
(Abde Syah)

"Bila Cerita Itu Tlah Purna..."

Dan jika suatu saat nanti...
Semua Cerita ini harus purna...
Kumohon menjadilah bintang di langit...
Sebagaimana aku yg lebih dulu ada di sana...
Biarkan saja cahaya kita...
Bersinar secara sendiri-sendiri...
Dengan caranya sendiri-sendiri...
Karna itu akan lebih merperindah ufuk langit...
Meski demikian sunyinya di keramaian langit...
Dan akan membuat cerita purna ini abadi...
Seabadi malamnya langit...

(Abde Syah)

"Catatan Terakhir di Buku Tua"

Beberapa waktu yg lalu, kira-kira 2 setengah bulan yang lalu aku sengaja berkunjung ke tempat pamanku yg tinggal di Desa Pindahan Baru, marabahan. Beliau adalah adik almarhum ayahku yang ketiga. Aku sengaja ke tempat beliau karna memang sudah lama aku tidak ketemu. Pada saat pertemuan itu, lama rasanya kami bicara tentang banyak hal. Sampai-sampai mata beliau berkaca-kaca ketika mencurhatkan isi hati beliau. Beliau banyak cerita tentang peristiwa-peristiwa di masa lalu.Beliau bercerita tentang keadaan keluarga pada zaman dulu.Dan banyak lagi cerita-cerita yang beliau ceritakan kepadaku. Aku saat itu sepertinya mirip seorang wartawan yang sedang mewawancarai seseorang yang sudah sedemikian sepuh.

Dari beliaulah aku tahu semua tanggal-tanggal kelahiran dan kematian, dan juga pernikahan zuriat di keluarga kami. Beliau membuka sebuah buku kerja tua. Di situ tertulis tahun 1985.
 

Dari catatan-catatan di buku tua itulah semua peristiwa tercatat dengan sedemikian lengkapnya. Di buku itu juga tertulis tentang kematian sepupuku yg baru saja meninggal dunia beberapa bulan yg lalu. Dan itu adalah catatan kematian yg terakhir beliau tulis. Aku begitu terkesan dengan catatan-catatan yg begitu lengkap di buku tua itu. Dan setelah sekitar 3 jam aku bersama beliau, akupun pamit. Aku mencium tangan beliau untuk pamit pulang ke palangka raya. Dan ternyata itu adalah untuk yg terakhir kalinya aku dipertemukan oleh Sang Maha Kuasa dan untuk terakhir kalinya aku  bisa mencium tangan beliau.

Dan kini, aku kembali ke tempat beliau. Untuk memberikan penghormatan terakhir untuk beliau. Karna malam tadi sekitar pukul 01.00 WIB, beliau dipanggil oleh Sang Maha Kuasa untuk selamanya.


Selamat jalan Paman...
Doa kami untukmu selalu...
Kami selalu mencintaimu...
Kau pasti mendapat tempat yg layak di sisiNya...
Dan kini, aku datang ke tempatmu...
Untuk menulis catatan kematian yg terakhir di buku tuamu....
Karna kini kau tak mungkin lagi untuk menuliskannya sendiri di buku tua itu...


(Abde Syah, Desa Pindahan Baru, Marabahan, 21 Maret 2012)