Selamat Datang Di Blog Dunia Abde...... Selamat Datang Di Blog Dunia Abde...... Selamat Datang Di Blog Dunia Abde...... Selamat Datang Di Blog Dunia Abde...... Selamat Datang Di Blog Dunia Abde...... Selamat Datang Di Blog Dunia Abde......

Minggu, 25 Maret 2012

"Catatan Terakhir di Buku Tua"

Beberapa waktu yg lalu, kira-kira 2 setengah bulan yang lalu aku sengaja berkunjung ke tempat pamanku yg tinggal di Desa Pindahan Baru, marabahan. Beliau adalah adik almarhum ayahku yang ketiga. Aku sengaja ke tempat beliau karna memang sudah lama aku tidak ketemu. Pada saat pertemuan itu, lama rasanya kami bicara tentang banyak hal. Sampai-sampai mata beliau berkaca-kaca ketika mencurhatkan isi hati beliau. Beliau banyak cerita tentang peristiwa-peristiwa di masa lalu.Beliau bercerita tentang keadaan keluarga pada zaman dulu.Dan banyak lagi cerita-cerita yang beliau ceritakan kepadaku. Aku saat itu sepertinya mirip seorang wartawan yang sedang mewawancarai seseorang yang sudah sedemikian sepuh.

Dari beliaulah aku tahu semua tanggal-tanggal kelahiran dan kematian, dan juga pernikahan zuriat di keluarga kami. Beliau membuka sebuah buku kerja tua. Di situ tertulis tahun 1985.
 

Dari catatan-catatan di buku tua itulah semua peristiwa tercatat dengan sedemikian lengkapnya. Di buku itu juga tertulis tentang kematian sepupuku yg baru saja meninggal dunia beberapa bulan yg lalu. Dan itu adalah catatan kematian yg terakhir beliau tulis. Aku begitu terkesan dengan catatan-catatan yg begitu lengkap di buku tua itu. Dan setelah sekitar 3 jam aku bersama beliau, akupun pamit. Aku mencium tangan beliau untuk pamit pulang ke palangka raya. Dan ternyata itu adalah untuk yg terakhir kalinya aku dipertemukan oleh Sang Maha Kuasa dan untuk terakhir kalinya aku  bisa mencium tangan beliau.

Dan kini, aku kembali ke tempat beliau. Untuk memberikan penghormatan terakhir untuk beliau. Karna malam tadi sekitar pukul 01.00 WIB, beliau dipanggil oleh Sang Maha Kuasa untuk selamanya.


Selamat jalan Paman...
Doa kami untukmu selalu...
Kami selalu mencintaimu...
Kau pasti mendapat tempat yg layak di sisiNya...
Dan kini, aku datang ke tempatmu...
Untuk menulis catatan kematian yg terakhir di buku tuamu....
Karna kini kau tak mungkin lagi untuk menuliskannya sendiri di buku tua itu...


(Abde Syah, Desa Pindahan Baru, Marabahan, 21 Maret 2012)

Jumat, 10 Februari 2012

Novel “Telaga Air dan Teratainya” Episode 7. “Di Antara Mereka” dan Episode 8. “Surat dari Arini”

“Gimana kabarnya Ka Marfin, Ka?” Tanya Arini padaku.
“Alhamdullillah, Rin, ia udah baikan, dan ia juga udah di kosnya lagi, katanya ia mau istirahat dulu sambil menghabiskan jatah izin istirahat dari dokter yang merawatnya kemarin di rumah sakit, jadi selama empat hari ini ia tidak akan masuk kampus” Sahutku.
“Emang kenapa sih, Ka, Ka Marfin bisa sampai kaya gitu? tanya Arini.

Lalu aku menceritakan semua apa-apa yang melatarbelakangi mengapa marfin bisa sampai OD. Bahwa Marfin adalah seorang anak yang kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya terutama bokapnya. Dan diperparah lagi dengan kenyataan bahwa bokapnya telah menikah lagi dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan nyokapnya.

“Sebenarnya ada apa sih Ka dengan nyokapnya, kok bokapnya sampai kawin lagi? tanya Arini lagi. “Itulah Rin, Kaka juga kurang begitu mengerti masalah itu.
“Semoga Ka Marfin sadar dengan apa yang sudah diperbuatnya, dan menjadi orang yang baik dan membaikkan orang-orang yang ada disekitarnya” Ucap Arini. “Amien....” Sahutku.

Sore ini aku kebetulan sedang berada di kosnya Arini. Asrama putri milik kampus. Aku dan Arini biasa ngobrol santai di beranda Asrama dimana disitu disediakan beranda khusus untuk tamu. Di beranda itu disediakan sebuah meja cukup lebar dan beberapa kursi kayu berjejer rapi. Aku, meski sangat dekat dengan Arini, tapi aku ngga pernah masuk ke kamar kosnya, karna aku tak ingin mengganggu privasinya meski Arini tidak melarang aku untuk masuk ke kamar kosnya.

Begitu juga Arini, dia tidak pernah ku ajak masuk ke kamar kosku, bukan karena privasiku akan terganggu dengan masuknya Arini ke kamarku, tapi memang karena tidak ada tempat yang layak untuk Arini duduk di dalamnya, karna lantai kamarku selalu berserakan kertas, buku-buku, serta barang-barang yang sering aku gunakan dimana-mana. Paling-paling Arini hanya melongok di depan pintu kamar kosku. Harus kuakui inilah kebiasaan burukku, aku termasuk orang yang paling malas kalau sudah urusan membereskan kamar. Sampai-sampai Beno pernah berucap padaku kalau suasana kamarku itu seperti suasana di pantai, karna ada debu dan pasir dimana-mana. Dasar si Beno itu.

Tapi dulu pernah satu kali ia masuk ke kamarku untuk membereskan dan merapikan semua isi kamarku, dan aku mengizinkannya saja saat itu. Aku ngga enak juga menolaknya karna Arini memohon kepadaku sudah berkakli-kali untuk membereskan kamarku. Tapi apa yang terjadi? Kamarku memang menjadi rapi dan sangat rapi malah. Semua buku-bukuku tersusun berdasarkan kategorinya. Tapi aku malah banyak kehilangan barang-barangku yang sering aku gunakan, karna aku tidak tahu dimana Arini menaruhnya. Aku ingat ketika itu aku mencari pick gitar akustikku yang biasa kupakai untuk memainkan gitar akustikku. Dan akhirnya akupun membongkar semua yang sudah disusun Arini hanya untuk mencari sebuah pick gitar yang kecil itu. Dan ternyata Arini menaruhnya di kotak kumpulan barang-barangku yang jarang kugunakan dan ia letakkan lagi di atas lemari pakaianku. Kalau saja aku tahu ia simpan disana, maka aku tak perlu membongkar apa-apa yang sudah disusun rapi oleh Arini di kamarku. Sejak saat itu aku tak mengizinkan Arini lagi untuk membereskan kamarku, meski kadang ia selalu saja ngomelin keadaan kamarku itu.

Tak lama berselang, Sinta pun muncul dan bergabung dengan kami dan juga larut terbawa obrolan santai kami. Sinta adalah seorang sosok perempuan yang tidak banyak bicara. Sinta hanya sesekali menyahut. Kadang cuman tersenyum kecil saja. Aku ngga tahu apakah itu karena ada aku dihadapannya. Sesekali ia menundukkan wajahnya dihadapanku, dan ia tak pernah lama kalau kebetulan mata kami secara tak sengaja saling menatap. Aku jadi serba salah juga kalau lagi dihadapan Sinta, karna aku tahu bagaimana perasaan Sinta padaku. Kuakui Sinta adalah sosok perempuan yang sangat cantik dan menarik. Lelaki mana yang tidak menginginkan Sinta untuk dijadikan kekasih. Oh... Tuhan haruskah aku menyakiti gadis ini, dengan menolak cintanya dan mencampakkan perasaannya. Sungguh aku merasa ini adalah ujian hatiku yang teramat berat. Aku paling ngga bisa kalau melihat seorang perempuan menangis, apalagi kalau seandainya air mata itu keluar disebabkan karena aku.
Dan yang lebih akan menyakitkanku adalah aku akan menyakiti hati sahabat dari sahabatku Arini.

Hmm... hari sudah hampir menjelang maghrib. Aku harus segera kembali pulang ke kosku. Akupun pamit sama mereka berdua untuk segera pulang.
-------------------------------------------------

Episode 8. “Surat dari Arini”

Sudah dua hari ini aku tidak melihat Arini ada di kampus. Biasanya ia ada di kantin atau di kursi di bawah pepohonan tempat yang biasa kami gunakan untuk ngobrol santai, menungguku karena setiap hari kami pulang bareng dan Arini kuantar ke kosnya. Kebetulan Asrama Putri tempat Arini itu selalu terlewatiku ketika aku pulang ke kos-kosanku.

Aku coba tanya pada beberapa teman sejurusannya, mereka juga ngga tahu kemana Arini berada. Aku jadi khawatir dengan keadaan Arini. Jangan-jangan ia sakit atau apa. Dan untuk memastikan keadaan Arini, aku mencoba mampir ke kos-kosannya sore ini. Karna siang ini aku masih ada kegiatan asistensi untuk praktikum mahasiswa di laboratorium jurusan.

Akupun tiba di asrama putri dimana Arini ngekos. Agak lamaan aku nunggu sampai akhirnya muncul Sinta menghampiriku. Dan aku langsung saja menanyakan perihal keadaan Arini kepada Sinta karena sudah dua hari ini ia tidak terlihat lagi di kampus.
“Arini dua hari yang lalu berangkat ke Bogor, Ka” kata Sinta.
“Ke Bogor!, ada urusan apa ia ke Bogor, Sin?” tanyaku.
“Katanya sih, ia mau melihat ibundanya, kangen banget katanya, ini ada surat dari Arini untuk Ka Edo” sahut Sinta.
Hmm... surat!, tumben Arini membuat surat untukku. kaya orang yang jarang ketemuan ajah. Gumamku.
“Oke, Sin, Ka Edo pamit dulu, dan thanks atas titipan suratnya.
Dan akupun bergegas untuk pulang ke kosku karna hari mulai gelap

Slrrruuuuuppphh.....ahhh....., Alhamdullillah, nikmat sekali kopi ini rasanya malam ini. Kopi yang kubawa sendiri dari kampung halamanku. Kopi ini terasa nikmat karna kopi ini tidak dibuat di pabrik, tapi kopi hasil olahan sendiri dari penduduk yang ada di kampung halamanku. Terasa nikmat karena pada kopi itu dicampur dengan bubuk jahe, sehingga memberikan aroma jahe yang sangat khas dan terasa hangat ketika sudah meminumnya.

Astaga, aku baru sadar kalau ada surat Arini yang tadi sore dikasih oleh Sinta sahabatnya. Akupun bergegas mengambil tas ranselku yang kugantung di samping lemari pakaianku, karna surat Arini kutaruh di dalam ransel itu.
Hmm... apaan lagi ini si Arini. Pakai ngasih surat segala. Gumamku. Akupun mulai membuka amplop ukuran kartu pos yang berwarna biru itu untuk membaca apa isi surat itu. Di dalamnya ada selembar kertas berwarna merah muda dan beberapa baris tulisan tangan Arini. Dan akupun mulai membaca isi surat itu’

Isi surat Arini:

Assalamu’alaikum, Wr, Wb.

Ka Edo yang baik hati.
Bersama surat ini ada sesuatu yang ingin Arini katakan sama Ka Edo.
Karna mulai saat ini dan seterusnya, Arini tidak akan berada di Kota ini lagi karna Arini harus balik ke kota asal Arini, Bogor, Jawa Barat.

Ka Edo jangan khawatir karna Arini akan tetap melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi yang ada di kota itu.
Alasan Arini untuk kembali ke kampung halaman semata-mata karena Ibunda Arini hanya tinggal sendiri saja lagi dirumah, karna kaka perempuan Arini satu-satunya yang biasanya menemani ibunda Arini harus mengikuti suaminya yang bekerja di Kota Surabaya.
Arini tidak mungkin meninggalkan beliau sendiri di rumah.

Ka Edo yang baik hati.
Arini ada satu permintaan kapada Ka Edo.
Dan Arini harap Ka Edo mau memenuhi permintaan Arini kali ini saja.
Anggap saja ini adalah permintaan terakhir Arini sama Ka Edo.
Arini mohon titip sahabat Arini, Sinta sama Ka Edo.
Jaga dan sayangi ia sebagaimana Ka Edo menyayangi Arini selama ini.
Karna Ka Edo adalah cinta pertama bagi Sinta.
Arini mohon jangan sia-siakan Sinta yang dengan tulus mencintai Ka Edo.

Arini merasa bersyukur sekali karena Arini pernah dipertemukan dengan seseorang yang sangat menyayangi Arini, seperti Ka Edo.
Arini ucapkan terima kasih karena Ka Edo telah menemani hari-hari Arini selama ini baik dalam suka maupun duka.

Semoga Kita akan dipertemukan lagi Ka, untuk selalu bersama lagi dan menuai waktu kebersamaan yang jauh lebih indah dari semua kebersamaan kita sebelumnya.


Wassalam

 Arini

Bagaikan disambar petir di siang bolong, aku kaget sekali ketika membaca isi surat Arini. Tega sekali ia meninggalkan aku sahabatnya dalam keadaan mendadak seperti ini. Dan yang lebih membuatku lebih terkejut lagi, ia mohon agar aku menjaga Sinta dan menyayanginya sebagaimana seorang kekasih menyayangi kekasihnya. Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan dirimu Arini, hingga kau berbuat begini padaku. Tak satupun alamat yang jelas atau nomor telpon yang bisa aku hubungi untuk mencari tahu keadaan Arini sebenarnya di surat itu.

Malam itu aku tidak bisa memejamkan mataku meski sesaatpun hingga menjelang subuh. Karna aku terus memikirkan kepergian Arini.

(Bersambung)
Episode 9. “Akhirnyapun Terbiasa”

Rabu, 08 Februari 2012

Novel “Telaga Air dan Teratainya” Episode 6. Over Dosis

“Kenapa skutermu, Do, mogok lagi ya...?” tanya Wawan padaku.
“Iya Wan, ngga tau nih skuter, padahal udah kubongkar itu mesinnya, tapi tetep aja ngadad mulu” sahutku.
Aku kebetulan punya skuter butut, tapi sudah kumodifikasi bentuknya meski masih menyisakan beberapa bagian yang masih original di skuter itu.

Skuter ini aku beli dengan uang hasil keringatku sendiri dari hasil jasa pengetikan dan terjemahan artikel bahasa Inggris yang kutabung sebagian selama satu tahun. Waktu itu harganya aku beli hanya seharga 700 ribu, karna skuter yang kubeli itu dalam keadaan rusak.  Akupun mencoba memperbaikinya sendiri hingga akhirnya skuter itu bisa jalan.

Dengan skuter itulah yang kugunakan untuk semua aktivitasku kuliah dan aktivitas lainnya.   Kadang aku suka ikutan turing bersama club skuter yang ada di kota ini. Kalau lagi turing biasanya bisa memakan waktu dua sampai tiga hari baru kami balik lagi.

Suatu kali aku pernah pergi turing bersama Arini untuk menempuh perjalanan 500 km pulang pergi dalam waktu dua hari. Sebenarnya aku tak ingin Arini ikut pada turing tersebut. Tapi ia keukeuh memaksaku untuk mengizinkannya turut ikut. Dan apa boleh buat, aku terpaksa harus membawa Arini turut serta denganku. Aku tak menginginkan Arini ikut turing itu karna aku khawatir udara panas, debu, dan terik matahari akan merusak kulitnya selama perjalanan turing itu. Tahu sendiri kan, perempuan itu paling menjaga kesehatan kulit tubuhnya.

“Alhamdullillah...., akhirnya mau juga skuter ini mesinnya hidup, Wan” kataku pada Wawan. 
“Sudahlah, Do, mending jual aja skutermu itu, daripada entar nyusahin kamu terus” sahut Wawan.
“Enak aja dijual, aku tak akan menjual skuterku ini Wan, karna skuter ini aku beli dari hasil keringatku sendiri” sahutku.
Wawan hanya tertawa-tawa kecil aja mendengar ucapanku.

“Do.. Do.. Edo.... Marfin Do, Marfin....” tiba-tiba Beno datang dan terlihat tampak gugup.
“Marfin???, kenapa Marfin, Ben? tanyaku.
“Marfin sedang OD (Over Dosis) di kamarnya, dari mulutnya keluar darah, Do” sahut Beno.

Akupun dan Wawan segera bergegas menuju kamar Marfin untuk melihat apa yang terjadi terhadap Marfin. Dan benar apa yang dikatakan Beno, Marfin terlihat dalam keadaan setengah sadar dengan darah yang yang membasahi sebagian dadanya. Tanpa fikir panjang lagi, aku dan Wawan mengangkat tubuh Marfin dan menaikkannya ke atas skuterku yang baru saja kuperbaiki itu untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. Dengan susah payah kami membawa Marfin dengan skuterku. Bayangkan skuterku yang butut itu harus membawa tiga orang manusia. Aku jelas ngga bisa membawa Marfin sendirian dengan skuterku, dan aku butuh Wawan untuk memegang tubuh Marfin supaya tidak jatuh selama perjalanan menuju rumah sakit. Dan untungnya skuterku bisa jalan mesinnya. Kalau saja tidak, aku tak tahu harus berbuat apa, karna motornya Beno lagi dipinjam adiknya pulang kerumah mereka diluar kota. Dan motor Bang Radin sudah dibawanya dari pagi tadi karna ia harus menghadiri acara seminar skripsi teman seangkatannya.

Di rumah sakit, aku menunggui Marfin sendirian karna Wawan tadi pamit untuk kembali ke kos dengan skuterku, katanya ia mau bersih-bersih badan dulu. Dan nanti kalau udah selesai ia segera kembali lagi sekaligus membawakan nasi bungkus, karna dari pagi hingga malam ini tak sebutir nasipun yang kumasukkan ke dalam perutku. Lagipula aku harus menunggui Marfin malam ini di rumah sakit setidaknya sampai malam esok sampai Keluarga marfin datang untuk menggantikanku. Aku lihat infus terpasang ditangan kiri Marfin, dan peralatan yang entah namanya alat-alat itu, menempel di dada dan perut marfin. Dan berangsur-angsur Marfin mulai sadarkan diri dan mulai bisa ku ajak bicara meski suaranya agak parau terdengarku.

“Kamu kenapa sih, Fin, kok sampai sebegini jadinya, kamu tau ngga, kalau kamu begini terus kamu akan selalu menyusahkan keluargamu dan juga orang lain” ucapku kepada Marfin.
“Maafkan aku, Do, aku khilaf, aku melakukannya karena keadaan yang memaksaku begini” sahut Marfin. 
“Kalau kamu ada masalah, khan kamu bisa cerita padaku atau sama teman lainnya, jangan kau diamkan sendiri masalahmu” sahutku.

Kemudian Marfin menceritakan semua masalah yang terjadi padanya. Dari cerita Marfin aku jadi tahu bahwa ternyata Marfin adalah seorang anak yang kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya terutama bokapnya. Ditambah lagi ternyata bokapnya punya isteri baru lagi tanpa sepengetahuan nyokapnya. Dan yang terakhir ini ternyata sangat menyakitkannya.

Marfin sangat dekat dengan nyokapnya tapi tidak begitu dekat dengan bokapnya. Bokapnya hanya sibuk kerja kerja dan kerja cari uang. Memang Marfin tidak pernah bermasalah dengan yang namanya uang, karna bokapnya mengasih uang jajan untuk Marfin sangat berkecukupan bahkan berlebihan. Dari kejadian yang menimpa Marfin sahabatku ini aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga bahwa ternyata tidak selamanya uang yang berlimpah itu akan membahagiakan. Ada hal lain yang jauh lebih membahagiakan yaitu adanya kasih sayang yang selalu ada dari orang-orang yang ada disekitar kita tak terkecuali kasih sayang orang tua.

Lingkungan pergaulan Marfin memang terdiri dari orang-orang yang kurang lebih sama dengan Marfin. Mereka sering mabuk-mabukkan. Dan suka sekali berkelahi antar geng yang ada di kota ini. Tapi ada untungnya juga aku punya sahabat seperti Marfin ini. Aku jadi kenal juga dengan teman-temannya itu, meski aku tidak pernah ikut dengan kebiasan mereka itu. Beberapa yang kukenal dari teman-teman geng Marfin ini seperti Redy, Boneng, Bejol, Anto, Gery, Kibil, dan Hary. Mereka terdiri dari campuran berbagai angkatan yang ada dikampusku dan juga dari fakultas lain di luar kampusku. Dan mereka biasanya cukup menghormati aku kalau aku kebetulan ada diantara mereka dan mereka sedang pesta miras. Mereka segan untuk menawarkan minuman itu padaku karena memang aku ngga pernah suka yang namanya miras itu. Mereka menghormatiku karena aku adalah sahabat Marfin. Kadang aku bersama Arini ada diantara mereka, dan mereka tetap menghormati Arini tanpa mengganggu atau menggodanya. Padahal biasanya kalau ada cewek cantik lewat saja, mereka pasti ribut menggoda cewek itu. Mirip sekali dengan kumpulan ayam yang bergerombol ketika dihamburkan umpannya.

Oleh karena aku kenal dan berteman baik dengan mereka, aku jadi turut kebagian “disegani” dikampus. Padahal aku tak pernah terlibat dalam perkelahian, aku tak punya musuh di kampus. Dan aku tidak pernah pilih-pilih dalam berteman. Aku tak ingin membatasi pertemananku pada satu kelompok saja, dan cuek dengan kelompok yang lain. Aku punya teman-teman yang biasanya aktif di masjid kampus, aku punya teman-teman yang biasa aktif dengan miras, bahkan obat-obatan terlarang. Aku punya keyakinan bahwa sejahat-jahatnya manusia pasti ada sisi baiknya meski sekecil apapun. Dan tidak menutup kemungkinan sisi baik yang kecil itu suatu saat akan merubah semua sisi jahat yang ada pada orang itu, dan menjadikan ia seorang yang lebih baik dari orang baik yang tidak pernah berbuat tidak baik sekalipun.


(Bersambung)
Episode 7. “Di Antara Mereka”

Selasa, 07 Februari 2012

Novel “Telaga Air dan Teratainya” Episode 5. “Mading Kampus”

Majalah Dinding Kampus, atau biasa kami menyebutnya Mading Kampus, bentuknya seperti kotak datar dengan ukuran 1 x 2 meter dan ditutup dengan kaca yang diberi kuncian agar apa apa yang ada di dalam mading itu tetap dalam keadaan aman. Biasanya Mading ini terletak tidak jauh dari sekretariat masing-masing himpunan mahasiswa yang ada dikampusku. Ada empat mading sesuai dengan empat jurusan yang ada di kampusku.

Di mading itu biasanya terdapat berbagai informasi, apakah itu tentang teknologi, seni, sosial, politik, dan sebagainya.  Aku tidak jarang menulis beberapa artikel tentang seputar review tentang budidaya tanaman tertentu dari hasil comotan aku di berbagai situs internet yang kemudian kukompilasi untuk menjadi sebuah artikel, tapi dengan mencantumkan sumber comotan itu tentunya. Karna aku tak ingin di cap sebagai mahasiswa plagiat atau plagiator. Kedengarannya mirip mirip koruptor gitu soalnya.

Kalau aku tidak sedang membuat artikel, aku biasanya menulis beberapa puisi untuk kutaruh di kolom “seni” yang tersedia di pojok kanan bawah di mading itu. Kebetulan si Rasyid, teman seangkatanku, salah seorang pengurus Himpunan Mahasiswa Agroteknologi yang berwenang mengurus mading itu memberikan aku ‘by pass’ untuk kapan saja aku bisa menaruh artikel atau puisi di mading itu.

Setiap puisi yang aku tulis, aku pasti perlihatkan dulu sama Arini apakah puisi yang kutulis itu bagus atau tidak. Tidak jarang Arini memberi masukkan dan kritik pada puisi-puisiku itu.  Kalau Arini udah bilang “Mantab”, baru kumasukkan ke mading itu. Tapi juga tidak jarang Arini sampai meneteskan air matanya ketika ia membaca puisi yang kutulis. Mungkin ia sangat menghayati dari apa yang kutulis di dalam puisi-puisi itu.

Tapi Arini tidak sadar, sesungguhnya puisi-puisi yang kutulis itu adalah gambaran perasaan hatiku kepada Pramitha, apalagi Pramitha sendiri tak akan bakalan tahu kalau puisi yang kutulis itu untuknya. Aku memang sengaja merahasiakannya kepada Arini tentang rahasiaku, perasaanku kepada Pramita.  Ini adalah beberapa puisi yang pernah aku buat untuk Pramitha, dan Arini sampai meneteskan air matanya ketika membacanya.

“Menyempurnakan Waktuku”

Tidak akan pernah cukup waktu untuk mencintaimu...
Meski itu akan menghabiskan waktuku.....

Aku memang tidak akan pernah bisa untuk menyempurnakan cinta itu untukmu......

Tapi aku akan menyempurnakan waktuku dengan mengabdikan cintaku padamu selama bersamamu hingga kedua mata ini terpejam untuk selamanya.....


"Meski Sesaat"

Pengharapan dalam perjalanan hati yg begitu panjang....
Menghabiskan tuaian waktu hanya sekedar berada disisimu sesaat...

Akupun berharap untuk bisa melewatkan waktu sesaat itu meski untuk yg terakhir kali...

Dan aku akan membawa cintaku untuk menjauh selamanya. Karna aku tak ingin cinta itu menghancurkan hatiku dan hatimu...





"Tak Pernah Meninggalkanmu"

Aku tak akan pernah meninggalkanmu....
Meski sang waktu mengusirku keluar dari waktumu....
Aku pasti akan selalu ada diwaktu yg sama untukmu...
Meski kita berada di tempat yg tdk sama....
Karna aku yakin suatu saat nanti cinta itu akan menyatukan waktu dan tempat yg sama untuk aku dan dirimu.


Ternyata Arini sangat halus perasaannya. Aku baru tahu ketika ia meneteskan air matanya saat membaca puisi-puisiku.  Aku tak menyangka, kalau ternyata dibalik sosok Arini yang selalu ceria dan mudah sekali tertawa ketika aku sesekali mencandanya dengan lelucuan lelucuan ringan. Begitu mudah tersentuh hatinya. Aku tak bisa membayangkan kalau suatu saat nanti Arini disakiti hatinya oleh seorang lelaki yang dicintainya. Mungkin akulah orang yang pertama kali yang akan menghajar lelaki itu karna sudah membuat hati orang yang aku sayangi tersakiti.

“Cepetan Rin, habiskan gado-gadonya, entar kamu telat lagi masuk kuliah” Kataku pada Arini saat kami makan gado-gado di kantin kampus. Kebetulan kami sama-sama sangat menyukai gado-gado bikinan Bi Ijah di kantin kampus ini. “Bentaran sedikit, Ka, ini juga mau habis” sahut Arini.

“Ka Edo, ada sesuatu yang ingin Arini ceritakan sama Ka Edo” ucap Arini padaku.
 “Tentang apaan?” sahutku singkat. 
“Tentang seseorang” jawab Arini singkat. 
“Siapa?” tanyaku. Kemudian Arini sedikit bercerita.
“Ada seorang yang sudah lama suka sama Kaka” jelas Arini.
“Ahh... masa, Rin, Siapa?” tanyaku singkat.
 “Namanya Sinta, teman Rini satu jurusan” jelas Arini lagi.
“Ah.. yang bener Rin, jangan becanda ahh...” sahutku.
“Ini beneran Ka, Rini ngga bohong” sahut Arini.

Ternyata dari cerita Arini, Sinta ini adalah temannya satu jurusan dengannya di kampus yang kebetulan bersebelahan kamar kos dengannya di asrama putri milik kampus. Dan Arini juga cerita kalau Sinta sering curhat padanya tentang aku, tentang siapa aku, apakah aku sudah punya kekasih atau belum, dan siapa yang menjadi gadis diinginkanku.  Dari cerita Arini aku sama sekali tidak menyangka kalau Sinta menyimpan begitu lama perasaannya padaku. Dan yang sangat mengejutkanku kalau ternyata Sinta tidak pernah mencintai laki-laki lain sebelum aku.

“Lalu Rini ngomong apa tentang Kaka? tanyaku.
“Rini bilang aja kalau Ka Edo itu orangnya baik dan bertanggung jawab, dan sepanjang Rini tahu Ka Edo memang belum punya kekasih” sahut Arini.
Wah.. celaka kalau begitu. kalau saja aku dulu sudah menceritakan semua rahasiaku dengan Arini, tentunya Sinta tidak banyak berharap padaku. Gumamku dalam hati.

Bagaimana aku harus menyelesaikan masalah ini. Aku tidak mungkin membuka rahasiaku dengan Pramitha sama Arini. Apakah aku harus melibatkan Arini untuk menyelesaikan semua ini.  Aku sadar ini akan berakhir menyakitkan. Aku tidak mungkin menerima Sinta masuk ke dalam kehidupanku sementara aku hanya bisa memberi iba kepadanya. Dan itu mungkin akan membahagiakan bagi Sinta, tapi tidak bagiku.  Karna biar bagaimanapun perasaanku terhadap Sinta pasti akan selalu terhalang dengan perasaanku kepada Pramitha.


(Bersambung)
Episode 6. “Over Dosis”